twitter
rss


Cerpen Karya Astika
“Ayah…aku mau kupu-kupu itu.” Ucap gadis kecil yang berada dipangkuan ayahnya.
“Kamu tunggu disini dulu ya? Biar ayah ambilkan kupu-kupunya.”

Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, sang ayah menurunkan putri kecilnya itu dari pangkuannya dan segera menangkap kupu-kupu yang ada di bunga mawar putih itu.
“Sssstt…ayah sebentar lagi mendapatkannya. Kamu diam, jangan bergerak sedikit-pun.” Ayahnya mencoba mengambil kupu-kupu itu tadi, dan akhirnya kupu-kupu itu tertangkap.

Belum sempat ia memberikan kupu-kupu itu pada putri kecilnya, kupu-kupu sudah terbang dan kini hinggap pada hidung gadis kecilnya itu.
“Hah…ayah…kupu-kupunya ada di hidungku.” Ucap gadis kecil sambil memandangi hidungnya yang di hinggapi kupu-kupu itu.
“Ayah ambil ya?” belum sempat ayahnya mengambil, putri kecilnya sudah lebih dahulu mencoba mengambilnya.
“Biar aku aja yang ambil.” Tangan gadis kecil ini mulai melayang dan sedikit lagi akan sampai pada kupu-kupu tersebut.
“Satu..dua..tiga..hap!” ia menangkap sayap pada kupu-kupu itu.
“Ayah! Aku dapat kupu-kupunya! Yeaayy…” teriaknya girang. Ayahnya tersenyum dan mengacak rambut putri kecilnya itu.
~~~~~

Krriinggg..kriingg..
Brakk..
“Astaga!” desis seorang wanita paruh baya saat melihat putrinya yang masih tertidur pulas di tempat tidurnya. Ia melangkah menuju jendela kamar putrinya itu dan membuka curtain-nya.

Putrinya yang sedari tadi tidur itu mulai membuka matanya perlahan, membiasakan dirinya dengan pantulan sinar matahari.
“Ibu?” ucapnya lirih.
“Udah bangun? Kamu kuliah gak sih, nak?”

Ia segera menoleh kearah jam wekernya, dan kini mata dan mulutnya membulat dengan sempurna.
“KYAAA!! Ibu..aku telaattt!” ia langsung buru-buru beranjak ke kamar mandi. Sedangkan wanita yang dipanggilnya ‘ibu’ tadi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.

Tokk…tokk..
“Kamu mau sarapan apa, Din?” tanya ibunya dari luar kamar mandi.
“Roti aja, bu.”
“Oke.”

~~~~~
“Ibu..” teriaknya setelah keluar dari kamar tidurnya.
“Ada apa sih? kok teriak-teriak gitu?”
“Hehehe… maaf bu.. rotinya mana?”
“Tuh di meja makan.”

Gadis itu segera beranjak ke meja makan, lalu mengambil roti tadi.
“Aku berangkat dulu ya bu..” katanya sambil menyalami tangan dan mengecup kedua pipi ibunya itu.

Wanita itu tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
“Putri kita sudah besar.” Ucap wanita itu lirih.
~~~~~

“Ya ampun…Dinaa..tumben lo datengnya telat?”

Gadis itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menunjukkan deretan gigi putihnya itu.
“Hehehe…kesiangan gue Ri.”

Temannya itu hanya menggeleng.
“Udah tau kan kalau ada dosen baru hari ini?” tanya temannya itu.
“Udah kok, syukurlah kalo dosennya udah ganti.” Ucapnya sambil menghela nafas.
“Hahaha kurang ajar lo, Din!”
“Woy..woy dosen baru udah dateng!”

Seketika semua mahasiswa dan mahasiswi langsung duduk dengan rapi.

Terdengar langkah kaki memasuki area kelas Dina dan teman-temannya itu. Dosen baru itu kemudian menaruh tas dan beberapa buku bawaannya di meja.
“Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Aji.”
“Saya disini menggantikan posisi Pak Bayu. Mungkin, hanya itu saja mungkin perkenalan dari saya. Ada yang mau ditanyakan?” tanya dosen baru itu.
“Pak.” Celetuk salah satu mahasiswa.
“Ya?”
“Tadi namanya siapa?” tanyanya.
“Aji.”
“Oh.. Aji…Ajiat jiat jiat ada dosen baru hahaha..” celetuknya dan seisi kelas tertawa mendengar celetukan laki-laki itu.
“Hahaha..bisa aja kamu.”

Dina sedari tadi hanya memperhatikan dosen baru itu dengan serius. Riri yang dari tadi melihat tingkah gadis itu langsung menyikut lengannya.
“Heh! Serius amat mbak? Naksir ya?” Ucapnya berbisik. Dina reflek memukul pundak temannya itu.
“Ngaco lo! mana mungkin gue naksir!” bantahnya.
“Pak, umurnya berapa?” celetuk salah satu mahasiswa lagi, dan dosen baru itu hanya tersenyum.
“Kalau itu rahasia!” ucapnya.
“Udah punya pacar belom pak?” tanya Riri, teman yang duduk di samping Dina.
“Belum. Masih nyari.” Mendadak seisi ruangan langsung ricuh saat dosennya berbicara seperti itu.
“Nyari yang muda ya pak?”
“Mangga kali muda, hahah..” kata dosen tersebut.

Riri menyikut lengan Dina lagi, dan berbisik.
“Masih nyari tuh, Din! Berminat gak lo? ahahaha..”

Dina hanya memutar bola matanya tak peduli.
~~~~~

“Eh, tuh ada yang nyariin kayaknya.” Riri menyenggol lengan Dina dan mengendikkan dagunya menunjuk orang yang dimaksud.

Arah mata Dina mulai mengikuti, dan senyum lebar langsung menghiasi bibirnya.
“Dimas?!”

Ia langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri laki-laki yang sudah berdiri di depan ruang kelasnya.
“Hai…udah selesai?” tanya laki-laki tadi, dan Dina menganggukan kepalanya.
“Tunggu sebentar ya, aku mau ngambil tas dulu.”

Dina kembali mengambil tas-nya dan berpamitan pada temannya.
“Ri..gue duluan ya? Daahh..”
“Iya…daahh..”

Dina langsung berlari menuju Dimas dan memasang senyum manisnya.
“Yuk!” ajak Dina, dan mereka berdua langsung pergi.

Riri yang melihat temannya itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Seandainya elo tau, Din.” Katanya lirih.
~~~~~

“Nih, es krim-nya.” Dimas menyodorkan satu es krim untuk Dina.

Mereka berdua kini duduk di taman dekat kampus. Tiba-tiba mata Dina melihat kupu-kupu yang hinggap di bunga sepatu yang tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
“Dim! Lihat deh.” Dina langsung menyenggol lengan Dimas.
“Ada apa?” tanyanya.
“Itu…kupu-kupu!” ucapnya sambil menunjuk kearah kupu-kupu tadi.

Dimas mengikuti arah telunjuk Dina.
“Astaga! Dina…kirain ada apa.” Dimas menggelengkan kepalanya dan kembali memakan es krim yang tadi dibelinya.
“Indah banget ya?”

Dimas diam dan tidak peduli dengan ucapan Dina, ia malah asik sendiri dengan es krim-nya.
“Dim—” Dina menoleh kearah Dimas dan dilihatnya laki-laki itu malah asik sendiri dan tidak mendengarkan celotehannya tadi.

Ia mendengus kesal dan menaruh es krim-nya di samping.
“Enak ya es krim-nya?” tanya Dimas.
“Tuh, kalau kamu masih mau, makan aja es krim aku!”

Dimas segera menoleh kearah Dina dan mengambil es krim yang berada di samping Dina, ia langsung menghabiskan es krim itu.
“Rese!” gumam Dina.
“Siapa yang rese?” tanya Dimas yang masih bisa mendengarkan gumaman-nya itu.
“Kamu!”

Dimas membuang tempat es krim tadi ke tempat sampah yang tidak jauh dari duduknya. Ia memiringkan duduknya dan menatap Dina dari samping.
“Kenapa? bukannya kamu yang rese?” ucapnya sambil memainkan rambut sebahu gadis di sampingnya ini.
“Aku?” ulang Dina.

Dimas menganggukan kepalanya.
“Kamu asik sendiri sama kupu-kupu itu!”

Dina memutar bola matanya.
“Kan aku udah pernah bilang! Kalau aku lihat kupu-kupu itu, aku seperti melihat ayah!”

Dimas menarik tangannya yang sedari tadi ia mainkan di rambut gadis ini.
“Kita itu lagi kencan, Din! Bisa gak sih kamu itu gak usah bawa kupu-kupu sama cerita tentang ayah kamu?!”

Dina membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan laki-laki disampingnya.
“Aku bosen, Din!”

Dimas beranjak dari duduknya dan meninggalkan Dina sendirian di taman. Ia baru kali ini melihat Dimas semarah itu.

Tiba-tiba air matanya mulai turun di kedua pipinya, dan ia melangkah menuju hamparan bunga di depannya untuk mengambil kupu-kupu tadi.
“Ayah…” ia meraba sayap kupu-kupu yang tadi ditangkapnya.
“Ayah, Dimas marah sama aku.” Ucapnya sambil terus mengeluarkan air matanya.
“Dia gak seperti ayah, bukan? Ayah gak pernah marah sama aku.”
“Ayah…Dina kangen sama ayah.”

Di kejauhan ada sosok yang melihat Dina sedang menangis sendiri di taman. Ia ingin menghampirinya tapi ia urungkan niat tersebut.
~~~~~

Brakk…
Dina menutup pintu kamarnya dan segera berbaring di kasurnya sambil memeluk guling.
“Ayah…” lirihnya.
“Ayah, Dina mau meluk ayah lagi.” Ia terisak dalam dekapan gulingnya.

Tok…tokk..
“Dina? Ibu masuk ya?”
“Masuk aja bu.” Dina segera menghapus air matanya.

Kreekk…
Ibunya masuk dan segera berjalan kearah tempat tidur putri-nya itu.
“Kamu kenapa, Din?” tanya ibunya sambil mengelus rambut putri satu-satunya itu.
“Ahh…gak pa-pa kok.” Ucapnya sambil mengeratkan pelukan ke gulingnya itu.
“Kamu kangen sama ayah?”

Dina perlahan mengendurkan pelukan pada gulingnya sambil menatap wanita di depannya ini, ia menganggukan kepalanya.
“Kita kesana yuk.” Ajak ibu Dina.
“Ayo!” ucap Dina semangat. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang sudah mulai beranjak dewasa ini.
“Eh? kamu habis nangis?”
“Aku kangen sama ayah, jadi aku nangis kayak gini.”

Ibunya tersenyum dan langsung memeluk putrinya itu.
“Ibu juga kangen sama ayah.”

Dina melepaskan pelukan mereka dan menatap orang tua satu-satunya itu.
~~~~~

Dina melihat gundukan tanah di depannya saat ini dan tersenyum.
“Ayah…”
“Aku kangen sama ayah.” Ucapnya sambil memegang nisan di depannya.

Dina saat ini sedang menaburkan bunga ke makam ayahnya bersama ibunya.
“Ayah…putri kita sudah besar sekarang.” Ucap ibunya dan membuat Dina tersenyum pilu saat melihat air mata yang turun di pipi orang tuanya itu.
“Ya udah, ibu kesana dulu ya. Kamu ngobrol dulu aja sama ayah disini.”

Lalu ibunya pergi ke makam orang tuanya yang tak jauh dari makam suaminya tersebut.
“Ayah…aku kangen main lagi sama ayah.”

Kini matanya mulai berkaca-kaca saat menatap kembali nisan dan gundukan tanah didepannya.
“Ayah, aku dulu pernah cerita kan kalau nanti aku mau punya suami seperti ayah.”
“Tapi yah…Dina belum dapat laki-laki yang seperti ayah sampai sekarang.


Cerpen Karya Astika
 
Disaat Dina sedang ‘mengobrol’ dengan ayahnya, tiba-tiba ada satu kupu-kupu yang kini hinggap di nisan sang ayah. Dina segera menangkapnya dan meraba sayap halus kupu-kupu tersebut.
“Yah..kupu-kupunya terbang.” Dina masih melihat arah terbang kupu-kupu itu, tiba-tiba ia melihat sosok yang ia kenal dari kejauhan.
“Pak Aji?” lirihnya.
~~~~~

“Bu, coba ceritain ayah itu kayak gimana?” tanya Dina sambil terus berjalan ke arah komplek perumahan mereka.
“Hmm…kayak apa ya?”
“Ayo dong bu ceritain!” bujuk Dina.
“Ayah itu orangnya gak terlalu bisa romantis di depan banyak orang. Tapi kalau di belakang, dia bisa menjadi sosok orang yang romantis. Terus ayah itu orangnya juga cerewet! Kayak kamu, heheh.”
“Terus?”
“Terus ayah itu juga sangat sayang sama anaknya. Makanya kamu sampai sekarang masih manja kan?”
“Eum…” Dina menganggukan kepalanya kecil.
“Bu?”
“Ya?”
“Suatu saat nanti, aku mau punya suami seperti ayah. Yang sayang sama istri dan anaknya.”

Ibunya tersenyum menanggapi ocehan putrinya itu.
“Tapi…kamu emang mau punya suami cerewet kayak ayah gitu?” ledek ibunya.
“Gak pa-pa deh. Yang penting sifatnya dia kayak ayah.”
~~~~~

“Dinaa!!” teriak seseorang dari belakang.
“Riri? Kenapa? kok teriak-teriak gitu?” tanya Dina.
“Heheh…gak pa-pa kok, Din. Oh iya! Temenin gue ke perpus yuk!” ajak Riri.
“Ya udah yuk. Gue juga lagi mau pinjem buku nih.”

Mereka berdua berjalan ke ruang perpustakaan, dan setibanya di ruangan tersebut Dina melihat sosok yang familiar. Riri yang melihat arah pandang Dina langsung tersentak.
“Din? Eum..kita pindah tempat aja yuk?” ajak Riri. Dina menggeleng dan segera berjalan kearah mereka.
“Jadi, maksud kamu dengan ‘bosen sama aku’ itu kayak gini?”

Dina langsung berbicara dengan lantang dhadapan dua manusia yang sedang bercengkraman tangan itu.
“Dina?”

Dina masih bergeming di tempatnya.
“Aku—aku bisa jelasin semuanya.” Dimas mencoba menyentuh tangan Dina, tapi gadis itu malah menyingkirkan tangannya.
“Gak usah pegang-pegang! Ya udah lanjutin aja yang tadi! Dan mulai hari ini kita udah gak ada hubungan lagi, oke?”

Dina beranjak dari hadapan Dimas, belum sempat ia melangkah ia membalikan badannya lagi.
“Oh iya! Selamat ya.” ucapnya sambil tersenyum sinis dan segera berlalu.
“Din? Lo gak pa-pa?” tanya Riri hati-hati saat melihat Dina berjalan kearahnya.
“Kenapa? gue gak kenapa-kenapa kok.” Dina langsung mengambil buku yang ingin di pinjamnya tadi.“Ya udah yuk!”
~~~~~

Dina termenung sendiri di taman yang berada dekat kampus. Ia menghembuskan nafasnya perlahan dan segera menghapus sisa air mata yang jatuh di pipinya.
“Dina?” panggil seorang laki-laki.
“Pak Aji?”
“Lagi ngapain? Kok sendirian disini?” tanya laki-laki yang bernama Aji tadi.
“Eum..itu…kupu-kupu.” Ucap Dina salah tingkah. Aji mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Kenapa kupu-kupunya?” tanyanya penasaran dan langsung duduk disamping gadis itu.
“Enggak…itu sayapnya bagus banget.” ucapnya asal.
“Oh.” Aji menganggukan kepalanya, ia segera menangkap kupu-kupu yang dimaksud Dina tadi.
“Ini? Hm..bagus sih sayapnya. Kamu suka sama kupu-kupu?” tanya Aji dan hanya mendapatkan anggukan dari Dina.

Aji tersenyum, tiba-tiba bayangan almarhumah adiknya melintas dipikirannya.
“Adik saya juga suka kupu-kupu.” Ucapnya.
“Oh ya?”

Aji menganggukan kepalanya pelan. Kemudian ia tersenyum lagi.
“Tapi dia sudah tidak ada.” Kini senyum miris menghiasi wajahnya.
“Kalau kamu? Kenapa suka sama kupu-kupu?” tanya Aji untuk mengalihkan pembicaraan.
“Kupu-kupu itu mengingatkan aku sama ayah.”
“Beliau udah lama tiada..” Dina menundukkan kepalanya.
“Jadi, setiap kali lihat kupu-kupu seperti melihat ayah. Karena dulu aku sama ayah suka nangkap kupu-kupu bareng.” Lanjut Dina dan ia tersenyum saat mengingat kejadian lampau bersama ayahnya.
“Maaf…” kata Aji lirih. Dina tersenyum tipis.
“Gak pa-pa kok, pak.”

Aji tiba-tiba melepaskan kupu-kupu yang sedari tadi ia pegang. Ia dan Dina melihat kupu-kupu yang terbang itu.
“Kupu-kupu itu pasti akan terbang dan tidak akan selamanya bersama kita.” Ucap Aji dan langsung membuat Dina menoleh kearahnya.

Dina mengerutkan keningnya, mencoba mengingat perkataan yang sama dengan ayahnya dulu ucapkan.
“Ayah…kupu-kupunya terbang..” kata seorang gadis kecil sambil memasang muka cemberut di wajahnya.

Ayahnya tersenyum dan segera memangku gadis kecilnya itu.
“Sini, coba dengarkan kata-kata ayah.”

Gadis kecil itu menurut dan mulai menatap ayahnya dengan serius.
“Kupu-kupu itu pasti akan terbang, mereka tidak mungkin bersama kita terus. Dia butuh kebebasan juga.” Kata ayahnya.
“Tapi kan yah, kupu-kupu itu cantik dan indah banget warnanya.”

Ayahnya kini tersenyum dan mengelus puncak kepala putrinya itu pelan.
“Justru itu kamu harus rela kalau mereka terbang. Sesuatu yang kamu anggap indah itu tidak akan selamanya milik kamu, dia milik Tuhan.”

Gadis kecil itu hanya melongo mendengar kata-kata sang ayah.
“Kamu belum paham ya?” tanya ayahnya yang melihat raut wajah kebingungan dari putri kecilnya itu.

Gadis kecil itu menggeleng dengan wajah polosnya.
“Suatu saat nanti kamu akan mengerti apa yang tadi ayah katakan.”

Gadis kecil itu tersenyum dan langsung memeluk ayahnya.
“Dina sayang ayah.”
“Ayah lebih sayang sama Dina.”
“Din? Dina?” Aji mencoba melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dina.
“Eh? aduh, maaf ya pak, saya malah jadi ngelamun tadi.”
“Hehehe…gak pa-pa kok.”
“Lagi ngelamunin apa tadi?” tanya Aji penasaran.
“Ayah. Tadi perkataan bapak sama dengan perkataan ayah saya dulu.”
“Oh..” Aji menganggukan kepalanya mengerti.
“Kamu sayang banget ya sama ayah kamu?”

Dina menganggukan kepalanya semangat.
“Sangaaaattt sayaangg…”
“Justru aku malah mau banget punya suami yang sifatnya kayak ayah.” Lanjut Dina lagi.

Aji menggelengkan kepalanya.
“Kita tuh punya kesamaan yang sama ya kayaknya.” Celetuk Aji.
“Maksudnya?” tanya Dina tak mengerti.
“Aku malah mau punya istri yang periang kayak adikku.”

Dina dan Aji tertawa bersama.
“Oh ya, kamu habis putus sama pacar kamu?” tanya Aji tiba-tiba.
“Kok bapak tau?”

Aji terkekeh pelan.
“Ya tau lah… itu bekas air matanya masih kelihatan.”

Dina hanya menunjukkan deretan gigi putihnya kearah Aji.
“Kenapa kok putus?”
“Ya, biasalah cowok zaman sekarang! Kalau belum punya pacar lebih dari satu itu kurang keren kayaknya.”

Aji tertawa mendengar ucapan Dina.
“Gak semua laki-laki itu kayak yang kamu pikirin. Ada juga kok yang enggak seperti itu.”

Dina mengangguk setuju.
“Tapi kayaknya susah nyari yang seperti ayah deh.” Ucap Dina lesu.
“Pasti ada kok.” Kata Aji sambil tersenyum, ia segera beranjak dari duduknya.
“Saya pergi dulu ya.” Aji berpamitan pada Dina dan mengacak pelan rambut gadis itu.

Gadis itu terdiam saat dosennya itu mengacak rambutnya. Jantungnya berdetak di luar batas! Dina menggelengkan kepalanya.
“Enggak mungkin. Iya, gak mungkin!”
~~~~~

Cerpen Karya Baiq Mega Yustika Kh.
Mischa tersenyum dan mengangguk.
“Udah hampir petang, Gue harus pulang.”Kata Mischa.
“Pulanglah… Apartment Lo dimana?”
“Di Losternike Apartment no.44, Lo?”
“Gue di Morlession Apartment no.12. Gue boleh berkunjung gak?”
“Boleh…”Kata Mischa sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
Berhari-hari kemudian, mereka semakin dekat. Fiandra pun sering menjemput Mischa untuk berangkat kuliah bersama. Keduanya mempunyai perasaan yang sama, Cinta. Namun, mereka belum saling mengungkapkannya.

S K I P
Pagi itu, Mischa sedang menikmati Pizza di apartmentnya, tiba-tiba Fiandra datang.
“Mischa!! Ayo cepat!!”Kata Fiandra.
“Kemana? Duduklah dan makan sama Gue.”
“Gue gak lapar… Ayo!!”Fiandra menarik tangan Mischa dan mengajaknya ke sebuah tempat.

Sesampainya di sana, betapa terkejutnya Mischa melihat sebuah hasil graffiti yang berupa wajahnya.
“A…apa itu Gue?”Tanya Mischa.
“Ya… Bagus gak?”
Mischa mengangguk.
“Berdiri di sana…”Kata Fiandra menyuruh Mischa untuk berdiri di samping graffiti tersebut.

Mischa hanya menurut dan,
*ckreckk
“Hei! Gue belum siap!! Ulangi sekali lagi!”Pinta Mischa pada Fiandra untuk memotretnya sekali lagi.
*krekkkk
“Udah, lebih cantik yang di graffiti…”Kata Fiandra pelan.
“Benarkah?”
“Tenang, Lo seribu kali lebih cantik kok… hehe”
“Bisa aja!! Kesini! Kita harus punya foto berdua…”

Mereka pun berfoto ria. Fiandra tampak bahagia. Sudah lama sekali Fiandra tidak merasakan hal seperti ini.
“Mischa? Mau gak Lo jadi pacar Gue?”Kata itu tiba-tiba terlontar dari bibir Fiandra.

Mischa kaget karenanya dan langsung diam. Pipinya merah merona dan hatinya berdetak cepat.
“Mischa? Aishiteru…”Kata Fiandra lagi.
“Maaf, Gue gak bisa dra… Maafin Gue…”Jawab Mischa.
“Mm… Iya. Gak papa. Gu…Gue pulang duluan ya… Gue ada urusan. Makasih.”
Fiandra membalikkan badannya dan melangkah pergi dari tempat itu.

Namun Mischa menarik tangannya dan berkata,
“Ayolah!! Gue gak bisa nolak… Gue juga sayang sama Lo dra…”
“Lo serius? Lo nerima Gue? Sekarang kita jadian?”Tanya Fiandra.

Mischa mengangguk.
“Tapi… Lo janji gak bakal ninggalin Gue dan nerima Gue apa adanya?”Tanya Fiandra lagi.
“Iya sayang…”
“Walau Lo tau sisi terburuk dari Gue?”
“Menurut Gue, Lo gak ada sisi buruknya… Amazing Totally…”

Mereka pun berpelukan dan saling membisikkan kata-kata indah. Kemudian, mereka pergi jalan-jalan ke Bourdoun Restaurant. Di sana mereka memesan makanan khas dari berbagai Negara. Berbeda dengan Mischa yang memilih makanan Italia, Fiandra memilih makanan khas Indonesia. Ya, seporsi nasi goreng dan sate ayam pedas. Mereka makan-makan di sebuah meja putih dekat jendela restaurant.
“Makasih udah mau jadi pacar Gue…”Kata Fiandra mengawali pembicaraan.
“Sama-sama. Gue udah suka Lo sejak awal kita ketemu…”
“Benarkah?”
“Iya. Menurut Gue, sifat Lo itu lembut. Kayak cewek. Hehe”
“Apa Gue bersifat lembut kayak seorang cewek? Mungkin itu karena…”

Kata-kata Fiandra terpotong. Mischa yang menantikan kalimat selanjutnya, menjadi sangat penasaran.
“Karena apa?”Tanya Mischa.
“Karena… Karena Gue sayang sama Lo…”Jawab Fiandra.
“Terimakasih… Gue akan selalu sayang sama Lo, sampai kapanpun…”
Setelah semua hidangan habis, Fiandra mengantar Mischa ke apartmentnya.

Sesampainya di pintu apartment…
*cupppp
“Bye-Bye sayang…”Kata Fiandra yang sebelumnya mengecup kening Mischa.
“Iya. Hati-hati di jalan sayang…”Kata Mischa sambil mengusap kepala Fiandra yang tersenyum manis di depannya.

Fiandra pun meninggalkan Mischa dan Mischa masuk ke ruangannya.
“Hmmm… Soooo good day for me. Thanks God!!”Gumam Mischa.

Mischa pun meraih diary booknya dan menuliskan sesuatu di dalamnya,
“ Dua Puluh Delapan Agustus

Dear Diary,
Hari ini, hari jadian Gue sama Fiandra. Gue sayang banget sama dia, dan Gue akan selalu sayang dan jaga dia.
Gue suka sifatnya yang lemah lembut, terkadang, Gue ngerasa kayak bareng seorang cewek kalo lagi sama dia. Gak tau kenapa. Tapi apapun itu, Gue akan berusaha menerima dia apa adanya.
Terimakasih Tuhan, atas apa yang Engkau berikan pada hamba hari ini…”
Mischa menaruh kembali Diary Booknya di tempat semula dan merebahkan diri ke tempat tidurnya. Namun, beberapa saat kemudian…

*ddrrt drrtt
HPnya bergetar pertanda ada panggilan masuk. Benar saja, telpon dari Fiandra, kekasihnya.
“Halo, ada apa?”Tanya Mischa pada telepon seberang.
“Sorry, Do you know the owner of this phone? He got accident and He is getting hospitalize now at Elizabeth Hospital. Please Come here. Thank you.”
Panggilan langsung terputus dan Mischa sangat shock dengan informasi tersebut. Hingga tak terasa, air matanya jatuh begitu saja.
Ia langsung bergegas menuju Elizabeth Hospital untuk memastikan info itu benar atau tidak.
Namun, apa yang tidak diinginkannya akhirnya terjadi, Fiandra terkapar lemas dengan banyak luka gores di tubuhnya.

Melihat itu, lagi-lagi Mischa menangisinya. Dia tidak tega melihat orang yang disayanginya terluka dan tak sadarkan diri. Mischa pun mengambil ponsel milik Fiandra dan berniat untuk menghubungi orangtua Fiandra. Namun sia-sia, tak ada nomor telepon atau apa saja yang berhubungan dengan orangtuanya. Nampaknya, benar kata Fiandra, dia tidak berniat untuk kembali ke Indonesia.
“What the hell!! Anak ini gila!!”Kata Mischa yang kesal tidak menemukan nomor telepon Ortunya Fiandra.

Kemudian, Mischa memeriksa dompet Fiandra alih-alih mendapatkan sesuatu untuk dihubungi, namun dia hanya mendapatkan Kartu Pelajarnya dan betapa terkejutnya Mischa melihat sesuatu,
“ Name : Rizee Olivee
Gender : Female ”
“A…apa ini? Ini gak mungkin!! Fiandra gak mungkin cewek!! Gak mungkin!!”Kata Mischa yang kaget dengan kenyataan bahwa Fiandra adalah seorang wanita bernama Rizee Olivee.

Beberapa saat kemudian, Fiandra pun sadar dan memanggil nama Mischa,
“Mischa…Mischa…”
“Gue di sini Fiandra…”Jawab Mischa dan berpura-pura seperti biasanya.
“Gue sayang Lo…”Rintih Fiandra pelan.
“Gu…Gue…ju…gaaaa…”Kata Mischa yang masih tidak bisa menerima kenyataan.
“Lo kenapa nangis? Apa Lo benar-benar mengkhawatirkan Gue?”

Mischa mengangguk pelan.
“Kalo Lo mau, Lo boleh pulang kok. Jangan khawatirkan Gue, Gue udah biasa sendirian…”
“Iya. Gue pulang duluan yaa… Jangan lupa minum obat biar Lo cepet sembuh… Bye-bye…”Ucap Mischa.
“Iya… Hati-hati di jalan sayang…”

Setelah Mischa pergi, Fiandra merasakan bahwa ada yang berbeda dari diri Mischa. Sangat berbeda.
“Ada apa dengan Mischa? Kenapa dia sangat berbeda?”Tanya Fiandra.

Beberapa hari kemudian, Fiandra sembuh dan kembali pulang ke apartmentnya. Mischa menemaninya di sana. Fiandra pun mencium kening Mischa.
“Fiandra, Gue boleh ngomong sesuatu?”Tanya Mischa pelan.
“Apa Scha?”
“Kenapa Lo harus bohong sama Gue?”Tanya Mischa lagi. Kali ini dengan air mata berlinang.
“Bohong?”
“Kenapa Rizee!! Gue udah sayang Lo banget! Gue udah terlanjur sayang ! Kenapa Lo gak bilang dari awal!!!”

Mischa menangis setelah itu. Dia sangat kecewa dengan Fiandra yang tak lain adalah seorang wanita.
“Jadi Lo udah tau yang sebenarnya… Maafin Gue…”
“Gue… Gue gak bisa maafin Lo dra!! Lo keterlaluan!! Apa Lo Cuma mau mainin perasaan Gue? Apa Gue Cuma jadi becandaan Lo doang?”
“Scha!! Dengerin Gue!! Gue tahu Gue salah. Tapi, mana janji Lo? Mana omongan Lo pas Lo janji bakal selalu ada buat Gue bahkan kalo Lo tau sisi terburuk Gue?”
“Tapi… Lo gak bilang kalo Lo adalah seorang cewek dan seorang Lesbian dari awal!!”
“Kalo Gue ngasitau Lo, Gue gak bakal dapetin Lo!!”
“Arrrgghh!!”
“Jawab jujur, Lo sayang Gue kan!! Ayolah Scha!! Lo juga seorang Lesbian!! Kalo Lo normal, Lo pasti gak bakal nerima Gue dan ngebiarin Gue cium Lo!!”
“Lo hanya pelarian Gue aja!! Mulai sekarang, kita PUTUS!!!”
“Apa lo bilang??”
Mischa pun pergi meninggalkan Fiandra dengan mata merah karena tak dapat menahan kesedihan hatinya.
Beberapa hari kemudian…
Fiandra yang hanya bisa menerima keputusan Mischa, terlihat sangat kacau. Dia pun menyadari kesalahannya. Namun, inilah dia. Dia adalah seorang Lesbian yang sangat mencintai Mischa.
Di lain sisi, Mischa juga Nampak kacau. Dia sering tidak masuk kuliah dan sering menyendiri di taman tempatnya dulu sering bersama Fiandra.

Suatu hari, ketika Fiandra duduk di bangku taman, Mischa datang dan memberikan setangkai bunga Rouserenni.
“Gue gak bisa lupain Lo…”Kata Mischa yang selanjutnya memeluk Fiandra.
“Apa sekarang Lo udah bisa nerima keabnormalan Gue?”Tanya Fiandra.

Mischa mengangguk.
“Gue sadar, Gue gak bisa ngontrol pada siapa Gue akan jatuh cinta. Dan ketika itu jatuh pada Lo, Gue awalnya berontak, tapi inilah Gue, Gue sama kayak Lo… Lesbian…” Kata Mischa sambil memeluk Fiandra.
Mereka pun berpelukan dan balikan lagi. Mereka sadar, cinta mereka terlarang, namun, siapa yang bisa mengontrol dan menahan perasaan?
 
THE END.