Cerpen Karya Astika
“Kamu tunggu disini dulu ya? Biar ayah ambilkan kupu-kupunya.”
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, sang ayah menurunkan putri kecilnya itu dari pangkuannya dan segera menangkap kupu-kupu yang ada di bunga mawar putih itu.
“Sssstt…ayah sebentar lagi mendapatkannya. Kamu diam, jangan bergerak sedikit-pun.” Ayahnya mencoba mengambil kupu-kupu itu tadi, dan akhirnya kupu-kupu itu tertangkap.
Belum sempat ia memberikan kupu-kupu itu pada putri kecilnya, kupu-kupu sudah terbang dan kini hinggap pada hidung gadis kecilnya itu.
“Hah…ayah…kupu-kupunya ada di hidungku.” Ucap gadis kecil sambil memandangi hidungnya yang di hinggapi kupu-kupu itu.
“Ayah ambil ya?” belum sempat ayahnya mengambil, putri kecilnya sudah lebih dahulu mencoba mengambilnya.
“Biar aku aja yang ambil.” Tangan gadis kecil ini mulai melayang dan sedikit lagi akan sampai pada kupu-kupu tersebut.
“Satu..dua..tiga..hap!” ia menangkap sayap pada kupu-kupu itu.
“Ayah! Aku dapat kupu-kupunya! Yeaayy…” teriaknya girang. Ayahnya tersenyum dan mengacak rambut putri kecilnya itu.
~~~~~
Krriinggg..kriingg..
Brakk..
“Astaga!” desis seorang wanita paruh baya saat melihat putrinya yang masih tertidur pulas di tempat tidurnya. Ia melangkah menuju jendela kamar putrinya itu dan membuka curtain-nya.
Putrinya yang sedari tadi tidur itu mulai membuka matanya perlahan, membiasakan dirinya dengan pantulan sinar matahari.
“Ibu?” ucapnya lirih.
“Udah bangun? Kamu kuliah gak sih, nak?”
Ia segera menoleh kearah jam wekernya, dan kini mata dan mulutnya membulat dengan sempurna.
“KYAAA!! Ibu..aku telaattt!” ia langsung buru-buru beranjak ke kamar mandi. Sedangkan wanita yang dipanggilnya ‘ibu’ tadi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.
Tokk…tokk..
“Kamu mau sarapan apa, Din?” tanya ibunya dari luar kamar mandi.
“Roti aja, bu.”
“Oke.”
~~~~~
“Ibu..” teriaknya setelah keluar dari kamar tidurnya.
“Ada apa sih? kok teriak-teriak gitu?”
“Hehehe… maaf bu.. rotinya mana?”
“Tuh di meja makan.”
Gadis itu segera beranjak ke meja makan, lalu mengambil roti tadi.
“Aku berangkat dulu ya bu..” katanya sambil menyalami tangan dan mengecup kedua pipi ibunya itu.
Wanita itu tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
“Putri kita sudah besar.” Ucap wanita itu lirih.
~~~~~
“Ya ampun…Dinaa..tumben lo datengnya telat?”
Gadis itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menunjukkan deretan gigi putihnya itu.
“Hehehe…kesiangan gue Ri.”
Temannya itu hanya menggeleng.
“Udah tau kan kalau ada dosen baru hari ini?” tanya temannya itu.
“Udah kok, syukurlah kalo dosennya udah ganti.” Ucapnya sambil menghela nafas.
“Hahaha kurang ajar lo, Din!”
“Woy..woy dosen baru udah dateng!”
Seketika semua mahasiswa dan mahasiswi langsung duduk dengan rapi.
Terdengar langkah kaki memasuki area kelas Dina dan teman-temannya itu. Dosen baru itu kemudian menaruh tas dan beberapa buku bawaannya di meja.
“Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Aji.”
“Saya disini menggantikan posisi Pak Bayu. Mungkin, hanya itu saja mungkin perkenalan dari saya. Ada yang mau ditanyakan?” tanya dosen baru itu.
“Pak.” Celetuk salah satu mahasiswa.
“Ya?”
“Tadi namanya siapa?” tanyanya.
“Aji.”
“Oh.. Aji…Ajiat jiat jiat ada dosen baru hahaha..” celetuknya dan seisi kelas tertawa mendengar celetukan laki-laki itu.
“Hahaha..bisa aja kamu.”
Dina sedari tadi hanya memperhatikan dosen baru itu dengan serius. Riri yang dari tadi melihat tingkah gadis itu langsung menyikut lengannya.
“Heh! Serius amat mbak? Naksir ya?” Ucapnya berbisik. Dina reflek memukul pundak temannya itu.
“Ngaco lo! mana mungkin gue naksir!” bantahnya.
“Pak, umurnya berapa?” celetuk salah satu mahasiswa lagi, dan dosen baru itu hanya tersenyum.
“Kalau itu rahasia!” ucapnya.
“Udah punya pacar belom pak?” tanya Riri, teman yang duduk di samping Dina.
“Belum. Masih nyari.” Mendadak seisi ruangan langsung ricuh saat dosennya berbicara seperti itu.
“Nyari yang muda ya pak?”
“Mangga kali muda, hahah..” kata dosen tersebut.
Riri menyikut lengan Dina lagi, dan berbisik.
“Masih nyari tuh, Din! Berminat gak lo? ahahaha..”
Dina hanya memutar bola matanya tak peduli.
~~~~~
“Eh, tuh ada yang nyariin kayaknya.” Riri menyenggol lengan Dina dan mengendikkan dagunya menunjuk orang yang dimaksud.
Arah mata Dina mulai mengikuti, dan senyum lebar langsung menghiasi bibirnya.
“Dimas?!”
Ia langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri laki-laki yang sudah berdiri di depan ruang kelasnya.
“Hai…udah selesai?” tanya laki-laki tadi, dan Dina menganggukan kepalanya.
“Tunggu sebentar ya, aku mau ngambil tas dulu.”
Dina kembali mengambil tas-nya dan berpamitan pada temannya.
“Ri..gue duluan ya? Daahh..”
“Iya…daahh..”
Dina langsung berlari menuju Dimas dan memasang senyum manisnya.
“Yuk!” ajak Dina, dan mereka berdua langsung pergi.
Riri yang melihat temannya itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Seandainya elo tau, Din.” Katanya lirih.
~~~~~
“Nih, es krim-nya.” Dimas menyodorkan satu es krim untuk Dina.
Mereka berdua kini duduk di taman dekat kampus. Tiba-tiba mata Dina melihat kupu-kupu yang hinggap di bunga sepatu yang tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
“Dim! Lihat deh.” Dina langsung menyenggol lengan Dimas.
“Ada apa?” tanyanya.
“Itu…kupu-kupu!” ucapnya sambil menunjuk kearah kupu-kupu tadi.
Dimas mengikuti arah telunjuk Dina.
“Astaga! Dina…kirain ada apa.” Dimas menggelengkan kepalanya dan kembali memakan es krim yang tadi dibelinya.
“Indah banget ya?”
Dimas diam dan tidak peduli dengan ucapan Dina, ia malah asik sendiri dengan es krim-nya.
“Dim—” Dina menoleh kearah Dimas dan dilihatnya laki-laki itu malah asik sendiri dan tidak mendengarkan celotehannya tadi.
Ia mendengus kesal dan menaruh es krim-nya di samping.
“Enak ya es krim-nya?” tanya Dimas.
“Tuh, kalau kamu masih mau, makan aja es krim aku!”
Dimas segera menoleh kearah Dina dan mengambil es krim yang berada di samping Dina, ia langsung menghabiskan es krim itu.
“Rese!” gumam Dina.
“Siapa yang rese?” tanya Dimas yang masih bisa mendengarkan gumaman-nya itu.
“Kamu!”
Dimas membuang tempat es krim tadi ke tempat sampah yang tidak jauh dari duduknya. Ia memiringkan duduknya dan menatap Dina dari samping.
“Kenapa? bukannya kamu yang rese?” ucapnya sambil memainkan rambut sebahu gadis di sampingnya ini.
“Aku?” ulang Dina.
Dimas menganggukan kepalanya.
“Kamu asik sendiri sama kupu-kupu itu!”
Dina memutar bola matanya.
“Kan aku udah pernah bilang! Kalau aku lihat kupu-kupu itu, aku seperti melihat ayah!”
Dimas menarik tangannya yang sedari tadi ia mainkan di rambut gadis ini.
“Kita itu lagi kencan, Din! Bisa gak sih kamu itu gak usah bawa kupu-kupu sama cerita tentang ayah kamu?!”
Dina membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan laki-laki disampingnya.
“Aku bosen, Din!”
Dimas beranjak dari duduknya dan meninggalkan Dina sendirian di taman. Ia baru kali ini melihat Dimas semarah itu.
Tiba-tiba air matanya mulai turun di kedua pipinya, dan ia melangkah menuju hamparan bunga di depannya untuk mengambil kupu-kupu tadi.
“Ayah…” ia meraba sayap kupu-kupu yang tadi ditangkapnya.
“Ayah, Dimas marah sama aku.” Ucapnya sambil terus mengeluarkan air matanya.
“Dia gak seperti ayah, bukan? Ayah gak pernah marah sama aku.”
“Ayah…Dina kangen sama ayah.”
Di kejauhan ada sosok yang melihat Dina sedang menangis sendiri di taman. Ia ingin menghampirinya tapi ia urungkan niat tersebut.
~~~~~
Brakk…
Dina menutup pintu kamarnya dan segera berbaring di kasurnya sambil memeluk guling.
“Ayah…” lirihnya.
“Ayah, Dina mau meluk ayah lagi.” Ia terisak dalam dekapan gulingnya.
Tok…tokk..
“Dina? Ibu masuk ya?”
“Masuk aja bu.” Dina segera menghapus air matanya.
Kreekk…
Ibunya masuk dan segera berjalan kearah tempat tidur putri-nya itu.
“Kamu kenapa, Din?” tanya ibunya sambil mengelus rambut putri satu-satunya itu.
“Ahh…gak pa-pa kok.” Ucapnya sambil mengeratkan pelukan ke gulingnya itu.
“Kamu kangen sama ayah?”
Dina perlahan mengendurkan pelukan pada gulingnya sambil menatap wanita di depannya ini, ia menganggukan kepalanya.
“Kita kesana yuk.” Ajak ibu Dina.
“Ayo!” ucap Dina semangat. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang sudah mulai beranjak dewasa ini.
“Eh? kamu habis nangis?”
“Aku kangen sama ayah, jadi aku nangis kayak gini.”
Ibunya tersenyum dan langsung memeluk putrinya itu.
“Ibu juga kangen sama ayah.”
Dina melepaskan pelukan mereka dan menatap orang tua satu-satunya itu.
~~~~~
Dina melihat gundukan tanah di depannya saat ini dan tersenyum.
“Ayah…”
“Aku kangen sama ayah.” Ucapnya sambil memegang nisan di depannya.
Dina saat ini sedang menaburkan bunga ke makam ayahnya bersama ibunya.
“Ayah…putri kita sudah besar sekarang.” Ucap ibunya dan membuat Dina tersenyum pilu saat melihat air mata yang turun di pipi orang tuanya itu.
“Ya udah, ibu kesana dulu ya. Kamu ngobrol dulu aja sama ayah disini.”
Lalu ibunya pergi ke makam orang tuanya yang tak jauh dari makam suaminya tersebut.
“Ayah…aku kangen main lagi sama ayah.”
Kini matanya mulai berkaca-kaca saat menatap kembali nisan dan gundukan tanah didepannya.
“Ayah, aku dulu pernah cerita kan kalau nanti aku mau punya suami seperti ayah.”
“Tapi yah…Dina belum dapat laki-laki yang seperti ayah sampai sekarang.

